Catatan Harian Icha

Saya orang yang senang berkomunikasi dengan siapa saja. saya juga senang menulis apa yang saya rasa,saya lihat atau saya renungkan. Saya berharap tulisan-tulisan saya bisa memberi manfaat bagi yang membaca.Minimal bisa menghibur!

Friday, November 20, 2009

(Catatan Kecil) KUNCI KEHIDUPAN
Icha Koraag


Note:
Hi Guys,….Terima kasih ku sampaikan dengan penuh kebahgiaan dan cinta atas ucapan selamat yang disampaikan lewat email, sms, telephone, fb . Aku bahagia!

Hari ini hari ulang tahunku. Usiaku bertambah setahun lagi. (Jadi makin banyak) Bisa di bilang menjelang pukul 15.00 sore. Kan kata orang kalau usia melewati 60 th berarti usia Senja. Mendekati 70 th atau lewat 70 th berarti masuk malam. Karena aku lewat dari 40 tapi belum 50, yah kira-kira di ambang petang kali yah? Entah siapa yang memberi istilah tersebut.
Saat ku terbangun pagi ini, Kehangatan langsung merasuk di relung kalbu. Terbangun di antara suami tercinta dan anak-anak terkasih adalah karunia tak ternilai. Secara ukuran, kamar kami tak besar. Tapi kamar ini penuh sejuta cerita. Sejuta gelak tawa, sejuta cinta dan sejuta curahan hati. Ada kehangatan kasih tapi juga ada pendar-pendar kepedihan, manakala rencana tak sejalan dengan kenyataan atau kesepakatan harus di langgar.
Kamar ini, memancarkan kehangatan cinta. Menatap sepasang mata belahan jiwaku, saat kami terbaring dan diam. Tak perlu ada suara atau kata terucap. Tapi lewat tatap matanya, kutahu kami masih sejalan dan akan tetap sejalan. Mengarungi samudera kehidupan dengan bahtera yang kami bangun hampir 14 tahun lamanya.
Dua hari lalu aku agak bersitegang dengan suamiku. Lantaran tiba-tiba mengabarkan keberangkatan ke Pekanbaru, Sabtu 21 Nov pk. 10.00 pagi. Jujur, agak sedikit punya beban pikiran di hari ulang tahunku. Bingung mengatur jadwal untuk berbagi dengan semua orang-orang terdekatku. Karena besok pagi Frisch harus ke Pekanbaru, sementara aku harus mengikuti gathering dengan teman-teman kantor. Sabtu adalah waktu libur bagi Bas dan Van. Lah kali ini, mama dan papanya harus meninggalkan mereka di waktu yang bersamaan.
Memang sih bukan yang pertama kami meninggalkan keduanya tapi kami tetap berusaha salah satu dari orang tuanya ada. Maka jadual kami berdua sungguh-sungguh harus detil dan terbuka. Maka perubahan jadual kerberangkatan membuatku sedikit kesal. Tapi mau bilang apa, aktivitas yang kami lakukan bukan aktivitas sendiri tapi bersinergi dengan orang lain. So, kami berdua harus sabar dan kompromi.
Maka keputusannya aku akan mengadakan makan malam di rumah mami tepat tgl 20 Nov (Nanti malam) sekaligus menitip Bas dan Van di sana. Kebetulan adik bungsuku yang guru TK, ada kegiatan outbond yang bisa diikuti Bas dan Van pada hari Sabtunya. Jadi, semua aman dan terkendali.
Aku menyempatkan diri merenungi perjalanan kehidupanku yang hampir setengah abad. (kayaknya lama banget yah?) Tuhan memberikan manusia Kunci Kehidupan. Bukan satu tapi 3 kunci kehidupan. Yaitu
Senyum, Syukur, dan Kasih.

Senyum bisa kita gunakan untuk membuka perbedaan dan mengasihi yang terluka..
Syukur bisa digunakan untuk membuka kesadaran untuk apapun yang kamu dapat dan hadapi..
Kasih bisa membuka semua pintu ketertutup untuk menjalani hidup ini.

Banyak yang ingin kutulis mengenai semua kebahagiaan yang ku dapat di hari ulang tahunku. Mungkin di lain catatan. (HO, Jumat 20 Nov 2009. Habis potong kue di kantor)

Sunday, November 15, 2009

Mawar-Melati semua suka Bastiaan.


Sulungku Bastiaan, bulan Juli genap berusia 9 tahun. Postur tubuh tegap dan bidang. Tingginya hampir mendekati 150 cm. Sesungguhnya bagiku, ia terlihat kurus tapi tidak bagi orang yang hanya sesekali bertemu dengan Bas.

Bentuk wajahnya serupa kami, orang tuanya. Oval dan agak memanjang. Rambut hitam tapi tak kelam, di potong model crew cut. Kulitnya putih bersih. Dibanding Vanessa, Bas memiliki warna kulit yang lebih terang.

Di sekolah Bas memiliki banyak teman baik laki-laki maupun perempuan. Salah satu Kawan perempuan di sekolah terlihat dengan status berkebutuhan khusus. Menurut keterangan orang tuanya agak-agak autis (Dalam hal ini ibunya yang kerap mengantar dan menjemput). Padahal menurut aku, ketika menjumpai anak tersebut, lebih kepada anak dengan syndrome Mongoloid karena hidup pesek dan jarak kedua mata jauh.

Mawar, sebut saja begitu, sangat menyukai Bastiaan. Menurut Bas, Mawar memang selalu berbeda sikap pada Bas dibanding ke kawan-kawan yang lain. Jika ke anak-anak lain Mawar kerap berteriak, mengejar dan menendang atau melempar sesuatu.

Menurut Bas, dari awal Mawar tidak pernah”nakal” pada Bas. Sejak itu, aku kerap berpesan pada Bas untuk selalu berteman dengan Mawar. Pernah juga Bas mengeluh karena Mawar selalu membuntuti kemana Bas berjalan saat istirahat.

“Masa kemana-mana Mawar selalu ikuti aku” Keluh Bas di suatu malam.
“Apakah dia menganggangu?” tanyaku perlahan
“Tidak sih ma. Tapi aku selalau di tertawakan teman-teman yang lain” jawab Bas.
“Kalau mereka mentertawakan kamu, Tanya saja apa ada yang lucu?” jawabku sambil mengusap kepalanya. Barangkali Bas merasa nyaman, ia semakin memasukkan kepalanya ke dalam pelukkanku.
“Eh Bas, Tanya sama Mawar, kenapa dia selalu ikuti kamu?” usulku.
‘Itu sih aku tahu! Karena gak ada yang mau main sama Mawar.!” Jawab Bas.
“Itu tugas Bas mengingatkan dan mengajak teman-teman yang lain untuk bermain dengan Mawar!” ujarku.

“Gak pada mau, mama. Mereka berteriak-teriak membuat Mawar jengkel!” jawab Bas.
“Biasanya apa yang Mawar kerjakan?” tanyaku
“Mawr jago sekali menggambar. Dia suka membuatkan aku gambar dinosaurus!” Ujar Bas ceria.

Kini tahulah aku, mengapa Bas bersikap baik pada Mawar. Ada sebuah hubungan timbal balik kebutuhan yang tidak disadari baik oleh Mawar maupun oleh Bastiaan. Analisaku, Mawar menyukai Bastiaan mungkin karena ia merasa di hargai. Sedangkan Bas yang sangat menyukai Dinosaurus tentu sangat senang jika mendapatkan gambar tersebut.

“”Mawar itu kalau soal gambar jago sekali ma! Bu Guru baru memperlihatkan gambar rumah adat, dia sudah tahu rumah adat daerah mana dan dia bisa menggambarnya” Cerita Bas penuh semangat. Saat di kelas 3, Bas memang tengah mempelajari seni buadaya Indonesia khsususnya, rumah adat, tarian daerah, dan tempat bersejarah. Hari ke hari cerita Bas tentang Mawar menunjukan tanda-tanda positif. Bas bercerita kalau kini teman-teman lain sudah tidak mengganggu Mawar lagi.
“Kok bisa, bagaimana ceritanya?” tanyaku heran
“Aku bilang sama teman-teman. Jangan ganggu Mawar, itu tidak baik karna Mawar kan juga teman kita!’ cerita Bas. Senang rasanya mendengar cerita Bas.

Tapi satu ketika aku medengar dari bas, Mawar tidak sekolah karena sakit. Hari ketiga Mawar tidak masuk, ibu Mawar menghubungi suamiku. (Yang sering berhubungan dengan sekolahnya anak-anak adalah papanya). Ternyata Mawar sakit karena sedih. Bastiaan menolak menerima hadiah dari Mawar. Saat mendengar cerita suamiku, aku mencoba mencari tahu dari Bastiaan.

Seperti biasa, usai belajar dan menyiapkan buku, aku dan anak-anak ngobrol di tempat tidur.
“kak, mama dengar mawar kasih hadiah yah buat kakak?” tanyaku.
“Iya, tapi aku tidak mau!’ Jawab Bas santai.
“Loh kok di kasih hadiah tidak mau?” tanyaku perlahan
“Iya, hadiahnya tuh tas perempuan” Jawab Bas.
“Tas perempuan seperti apa?” tanyaku lagi.
“Dari kain, warna merah, gambarnya manusia salju!” Jawab Bas.
“Jadi apanya yang tas perempuan? Itukan tas kain biasa!” Ujarku lagi.

Bastiaan terdiam, entah apa yang dipikirkannya. Aku hanya mengamati Bas yang sedang memainkan tali pengikat guling.

“Kak, kakak tahu, mawar sakit karena sedih. Kakak tidak mau menerima hadiah dari Mawar!” Ujarku perlahan.

“Kok sedih bisa sakit?” Tanya Bas.
“Ya. Karena Mawar mengira kakak sudah tidak mau jadi temannya lagi! Dia sedih akhirnya jadi pusing” Ujarku. Sebetulnya aku bingung menjelaskan konteks sedih menjadi sakit. Karena aku tahu Mawar sakit lebih pada jiwanya yang berdampak ke fisiknya.

“Mawar salah. Aku tetap mau main sama dia!’ prote Bas.
“Nah itu baru anak mama. Kalau Mawar kasih hadiah terima saja dan katakana terima kasih. Kalau kakak tidak mau pakai tas itu, berikan pada adik. Kalau Mawar Tanya kok tidak dipakai. Katakan pada Mawar karena kakak sayang sama adik, tas itu kakak berikan ke adik!” ujarku.

Keesokan hari, Bas memperlihatkan tas kain merah itu. Aku memang mengatakan pada suamiku untuk mengatakan pada ibu Mawar, Bas pasti mau menerima hadiah itu. Akhirnya tas kain itu aku yang pakai. Aku gunakan untuk menyimpan charger laptop.

Lain hari Bas bercerita kalau dia di kasih permen sama kawannya, sebut saja Melati. Menurut cerita Bas, Melati menyukai Bas. Dalam hati aku berkata waduh anakku di sukai banyak gadis! Suatu hari ketika aku berkesempatan menjemput anak-anak pulang sekolah, aku sempat duduk menunggu di kantin bersama penjemput yang lain. Bas sempat menemui aku dan menunjukan gadis yang bernama Melati. Gadis kecil berkacamata dan berkepang dua. Geli benar perasaanku. Saat bel berbunyi, kedua anakku keluar maka akupun bersiap-siap meninggalkan sekolah.

Di pintu gerbang sekolah aku berpapasan dengan sebua mobil yang tiba-tiba jendelanya terbuka. Seraut wajah ibu muda tersenyum pada Bastiaan. Ini yang namanya Bastiaan?” Tanya ibu itu. Bas mengangguk dan aku tersenyum. Di kursi belakang aku melihat Melati memeluk leher ibu itu.
“Jadi ini Bastiaan yah yang disenangi Melati?” Tanya ibu itu.
Bas dengan lugu mengangguk. Aku tertawa. Gadis kecil mengeluarkan kepala di jendela, disebelah mamanya. “Dag Bastiaan!” Seru gadis itu. Bas balas melambaikan tangannya. Ibu Melati pamit menganggukkan kepala padaku dan akupun membalasnya.

“Wah mama melati juga tahu kalau Melati suka sama kakak yah?’ tanyaku
“Ya tahulah ma. Teman-temanku juga padat tahu. Melati itu suka sama aku 95%!” Cerita Bas.

Antara geli dan terkejut aku mendengar penjelasan Bastiaan.
“Darimana tahu Melati 95 % menyukai kakak?” tanyaku heran
“Dari ramalan” Jawab Bas santai.
“Ramalan…? Ramalan apa…? Siapa yang meramal?” tanyaku penasaran.
“Teman-temanku di kelas!’ jawab Bas.

Kali ini aku serasa di skak mat. Teman sekelas main ramal-ramalan? Waduh….waduh, fenomena apa lagi nih? Terlepas dari ramal-ramalan. Aku senang melihat sikap Bas. Yang tetap rendah hati dan hormat. Atau bukan rendah hati tapi karena tidak mengerti..? Apapun jawabnya aku bangga pada Bastiaan. Sifatnya yang selalu memilih berdamai dan berteman membuatnya jadi buah bibir bukan hanya dikalangan teman sekelas tapi di kalangan orang tua teman-temannya. Bas, mama bangga padamu!

(Mei 2009)
Aku ngeblog maka aku bahagia:
http/www.elisakoraag@blogspot.com

Thursday, November 12, 2009

SEMANGKUK MIE AYAM TERBAYAR LUNAS DENGAN SEBUAH PELUKKAN.
Icha Koraag

Di lemari es, ada kornet ayam, kentang, daun bawang dan telur. Maka akupun membuat perkedel karena aku tahu suamiku menyukai perkedel apalagi jika di temani semangkuk sup sayuran. Sementara Bas dan Van lebih menyukai sup sayuran dengan ikan atau telur. Ya, aku akan membuat perkedel, telur dadar, telur ceplok dan sepanci sup sayuran, untuk makan malam. Setoples kerupuk udang sudah di goreng.
Masing-masing anggota keluargaku punya selera. Bas lebih suka telur di kocok (dadar) sementara Van lebih suka di ceplok (Mata sapi). Mengenali jenis-jenis makanan/masakan yang mereka sukai adalah seni tersendiri. Ada kepuasan yang tak terlukiskan dengan kata, manakala mereka mengucapkan terima kasih sambil berkata “Masakan mama top!”
Selalu ada kehangatan yang merembes ke sudut hati, manakala suami dan anak-anakku menyukai masakanku. Tapi ada juga rasa jengkel kalau mereka memilih. Maksudku, mereka mengenal masakanku dan ada beberapa yang mereka suka dan yang tidak di suka. Berbahan dasar sayurlah yang cenderung tidak di suka. Jadi terkadang sayuran yang sudah dimasak tak tersentuh karena memang dihindari.
Tapi aku, ibu yang cerewet untuk urusan makanan. Tak ada istilah menawar untuk makanan berbahan dasar sayur. Sayuran wajib di makan. Tapi sesekali papanya suka mengikuti kemauan anak-anak. Bas sudah semakin besar, disekolah ada pelajaran mengenal makanan sehat. Maka sekarang Bas di beri sayur apa saja tidak menolak, kecuali aku memberi pilihan. Misalnya dengan pertanyaan “Mau makan apa?” Soalnya, senang juga loh bisa memenuhi keinginan mereka. Sementara Van, jauh lebih gampang dalam hal makan.
Bila kami akan berpergian, aku harus memastikan Bas sudah dalam kondisi kenyang makan. Karena Bas tidak mudah makan. Sementara Van bisa menikmati hampir semua jenis makanan. Baik itu somay, gado-gado atau lemper.
Terkadang aku suka memberi kejutan kecil. Kalau hari Sabtu atau Minggu, seperti minggu lalu. Pagi-pagi aku ke pasar dan berbelanja. Sepulang dari pasar Bas menyongsongku depan pintu dan bertanya, “Mama, masak apa hari ini?” Sambil tersenyum aku mengdipkan sebelah mata “Itu rahasia!’ Jawabku.
Biasanya Bas akan mengekor di belakangku dan mendesak “Masak apa ma?” tanyanya penasaran. “Pokoknya yang enak-enak!” Jawabku. “Oh….!” Cuma itu jawab Bas lalu meninggalkan dapur. Aku mengeluarkan ayam, mie, jamur, daun bawang, bakso dan pangsit. Aku berniat membuat mie ayam kesukaan Bas. Bakso dan pangsit pelengkap mie ayamku , Van dan papanya.
Setelah ayam kubersihkan, kupisahkan daging, tulang dan kulit. Kulit ayam kulelehkan untuk mendapatkan minyaknya. Sedang daging ayam, di potong kotak-kota, begitu pula jamur kancing lalu di tumis dengan bawang putih, sedikit minyak wijen, merica, dan garam. Lalu aku membuat kaldu ayam dari sisa tulang dan dan sedikit dagingnya. Tak sampai setengah jam, mie ayam siap tersaji. Belum sempat ku letakkan di meja makan. Bas sudah ke dapur mengikuti aroma yang mengundang.
“Aku lapar!” Ujar Bas.
“Mama tahu, mie ayam sudah siap!” Jawabku sambil membawa dua mangkok mie ayam ke meja.
“Asyik…! Sudah lama banget lloh mama gak masak mie ayam.!” Ujar Bas dengan gembira. Lalu berlari, kudengar ia melaporkan pada papanya dan mengajak Vanessa makan. Tak lama Bas kembali mendekatiku
“Terima kasih mama!” Ujar Bas sambil memelukku. Ada kehangatan yang mengalir di dada ini. Mie ayam buatanku tentu tak seenak Bakmie Ayam Gajah Mada, atau Mie Ayam Bangka atau Mie Ayam yang terkenal lainnya tapi Mie ayam penuh cinta buatanku terbayar lunas dengan sebuah pelukan. Bas dan Van, mama selalu mencintai kalian. (HO Bintaro 12 Nov 2009)

Anak

Anak-anakku Jacko Mania!
Icha Koraag

Sebagai ibu, istri dan perempuan pekerja, waktuku sebagian besar tersita untuk urusan pekerja. Mulai bangun pukul 04.30, mempersiapakan keperluan anak dan suami, termasuk masak untuk sarapan dan bekal mereka. Berangkat pk. 7.30 sampai rumah kembali sekitar pk. 19.00. Nyaris setengah hari di luar rumah untuk urusan pekerjaan.
Dan biasanya kalau sudah pulang, bersih-bersih diri, istirahat sambil ngobrol dengan Bas dan Van juga papanya, lalau menyiapkan makan malam.

Pokoknya lewat pk. 21.00 aku nyaris kehabisan energy. Mau menulis? Begitu banyak yang ingin di tulis. Tapi kalau aku mengikuti keinginanku menulis, aku mengabaikan rasa lelah dan anak-anak terutama si kecil Van. Yang menjelang tidur masih memerlukan aku. Selain itu terkadang kalau Van sudah tidur, aku masih harus mengintip computer untuk mengevaluasi kerjaan. Biasanya pukul 22. 15 mataku benar-benar mulai sulit di buka. Dan jadwal itu berputar 5 hari. Sabtu dan Minggu agak lumayan bisa bangun lewat dari pukul 7. Karena di jam-jam itu kedua anakku sudah pasti minta susu atau sarapan.

Menulis bagiku adalah salah satu wujud kesenangan maka aku mengalahkan kesenanganku itu dengan merelakan diri bersenda gurau atau ngobrol dengan Bas dan Van menjelang mereka tidur. Dan biasanyapun aku ikut tertidur. Esok pagi, pk. 4.30 aku sudah harus bangun. Pendek kata agak sulit menyisihkan waktu untuk menulis.

Sebenarnya bukan aku mengabaikan menulis. Kadang tulisanku hanya tertuang sebagai catatan harian tanpa sempat aku postingkan di milis atau di blog. Sekarang aku mau sedikit bercerita mengenai dua malaikat kecilku Bas dan Van.

Kematian tragis King of Pop Michael “Jacko” Jackson turut menjadi perhatian Bas dan Van. Ini tak lepas dari peran media yang hingga lebih dari seminggu pemakaman Jacko, beritanya masih mewarnai televisi. Papanya anak-anak yang juga penggemar music, banyak bercerita pada Bas dan Van melengkapi berita seputar Jacko. Soalnya saat Jacko mengguncang dunia, aku dan suami masih duduk di SMA. (Waktu itu belum saling mengenal) Bahkan papanya anak-anak mampu menyanyikan syair lagu-lagu Jacko dengan baik.

Saat menjelang tidur, Van dan Bas dengan antusias menceritakan kembali apa yang didengar dari tv maupun dari papanya. Mereka berdua mampu bercerita seakan mereka yang berada di situasi saat Jacko mendunia. Ah dasar anak-anak. Jiwa dan pikiran mereka memang seperti spon, yang dengan cepat menyerap hal-hal baru, apalagi kalau mereka suka.

Keduanya memang sangat menyukai music. Buatku hal itu menyenangkan saja. Hampir sepanjang kegiatan mereka, aku melihat mereka selalu bersenandung. Bagiku sebagai satu pertanda perasaan mereka nyaman. Karena tidak ada seorangpun kalau susah hati atau tidak nyaman lalu bersenandung. Selain itu aku juga suka melihat mereka mengganti syair seiring dengan kegiatan yang mereka lakukan. Aku tahu untuk yang satu itu mereka meniru aku.

Saat Bas dan Van masih balita. Jika aku membawa mereka untuk menyikat gigi, aku selalu bernyanyi dari lagu “Kakak Mia” yang syairnya aku ganti.
Wahai kuman…wahai kuman
Jangan suka kamu sembunyi.
Itu yang gendut yang warna hitam
Ayo keluar dari gigiku.

Kerapk aku melihat kalau Bas dan Van sedang bercanda, mereka berbalas syair dengan mengganti syair semau-mau mereka. Kadang mereka cemberut kalau syairnya tidak bagus tapi sering juga mereka tertawa tergelak-gelak. Itu juga tanda yang meyakinkan aku, mereka berbahagia.
Lebih dari 2 jam mereka bisa asik mengulang-ulang nonton VCD Michael Jackson. Dan sesekali mengikuti gaya Jacko menari. Aku sempat geli ketika ngobrol dengan papanya anak-anak.
“Pa,,,edan juga si Jacko bisa lentur begitu menarinya!”
“Itu karena dia menekuninya dengan serius!’ Jawab suamiku
“Mungkin juga karena berkulit hitam kali….kan disana AfroAmerica memang pandai menari semua!” ujarku lagi
“Ya, enggaklah, Jacko berlatih sudah sejak usia 5 tahun, ma!’ bantah suamiku. Tiba-tiba Van angkat bicara.
“Iya ma, Jacko itu seperti aku, sejak 5 tahun sudah berlatih menari!’ Ujar Van serius.
Aku menahan senyum sambil bertukar pandang dengan suamiku. Jujur, geli benar mendengar Van berkata demikian. Saat itu lagu Heal the world berkumandang. Kembali Van berkomentar.
“Ini lagu aku suka banget. Suara piano dan gitarnya membuatku nyaman. Jacko menyanyikannya juga bagus banget!” Ujar Van . Aku jadi seriues mendengarkan, apa iya piano dan gitarnya terdengar nyata? Bagiku musiknya gabungan tapi memang Heal The world terasa menyihir pendengarnya.

Usai lagu itu, papanya anak-anak menterjemahkan syair Heal the world dan sedikit latar belakang mengapa lagu itu tercipta. Bas dan Van diam. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan namun aku tahu ada sesuatu yang mereka tangkap dan pahami. Ya, dari seorang King of Pop Michael Jackson banyak yang bisa kita pelajari. Pesannya lewat karya musiknya patut kita tiru. Hidupnya didedikasikan untuk music dengan membawa pesan perdamaian. Musik memang bahasa yang universal. Warna kulit boleh berbeda, warna rambut boleh berbeda tapi music perdamaian mampu menembus semua dinding perbedaan untuk wujudkan dunia menyadi tempat yang lebih baik untuk aku dan kamu..! 14 Juli 2009. Icha Koraag (Di sela-sela makan siang)

Friday, February 27, 2009

(Bagian 3) LUWUK: Akhirnya sampai juga.




















Bus besar ini tak ada bedanya dalam kapasitas angkut seperti bus Bitung Indah. Di atas bus terikat bagasi yang tingginya hampir satu meter lebih. Sayang kamera low bat jadi gak bisa mengabadikannnya. Di belakang bus diikat kursi, lemari, sepeda motor, sehingga bus tambah panjang hampir satu meter. Dan di dalam bus pun penuh kardus-kardus bagasi. Perjalanan sama tidak enaknya. Karena nampaknya penumpang dimanjakan. Beberapa wanita minta diberhentikan di sebuah pusat tanaman hias dan mereka membeli berpot-pot tanaman hias seperti Anterium dan gelombang cinta. Dilain perhentian sebagian penumpang belanja durian karena memang musimya.

Entah berapa lama saya tertidur. Ketika kaki ini mulai terasa tak enak, saya membuka mata. Di luar jendela, semburat merah mentari mulai nampak. Hanya segaris tipis dari batas laut. Kemarin sore saya sudah menghubungi kontak saya dan memberikan nama bis yang saya tumpangi. Kontak saya tahu dimana letak pool. Saat bus mulai mengurangi kecepatan dan berhenti disebuah lampu merah, hati saya bergetar. Saya melihat disisi kanan sebuah gereja. Bukan gerejanya yang membuat saya bergetar. Bangunan gereja indah namun nama gerejanya mengingatkan saya pada matahari kehidupan saya. Gereja itu bernama Calvari.

Dan itu nama putera sulung saya Bastiaan Calvari Monoarfa. Mengingat Bas, selalu membawa ingatan saya pada adiknya Van.Mereka jauh dan lama saya da pasangan tinggalkan. Karena pada waktu yang bersamaan, suami sayapun tengah keliling Kalimantan. (Diakhir perjalanan suami saya, kami bertemu di Menado! Ini cerita dilain kisah)

Akhirnya di Pool Bus, kontak saya sudah menunggu. Saya diantar ke hotel untuk mandi. Saya hanya punya waktu kurang dari satu jam sebelum dijemput kembali untuk melakukan tugas. Istirahat…………….? Masih lama. Pukul 08.30 saya bertugas hingga pukul 14.00. Lalu saya minta diantar kembali ke hotel untuk tidur dan berjanji akan makan malam bersama di tepi pantai.

Tidur ditempat tidur berselimut nan lembut, sungguh memanjakan. Terbayar sudah kelelahan dua hari dua malam di bus jelek dan busuk. Disambut keindahan dan keramahan warga Luwuk, menyempurnakan perjalanan saya. Saya diantar keliling kota, bahkan naik keperbukitan sehingga bisa melihat Luwuk diwaktu malam seperti permandangan Puncak di Jabar ke arah kota Bogor. Bedanya kota Luwuk tak terlalu dingin.

Siang tadi saya sudah menyantap makanan laut, malamnya saya dijamu bakso dan pisang goreng yang kami santap ditepi laut. Asyik, enak dan menyenangkan.Pukul 10 malam, saya berpamitan pada semua sambil tak lupa meninggalkan no tlp dan email serta berjanji akan tetap saling berkabar. Keesokan pagi pukul 4. subuh, resepsionis hotel membangunkan. Saya bergegas mandi dan sarapan karena tak lama saya sudah dijemput untuk diantar ke Bandara bubung.

Matahari masih mengintip malu tapi saya siap melanjutkan perjalanan. Kali ini Menado tujuiannya. Dengan Foker 100 merpati, sebuah pesawat kecil yang lagi-lagi mendebarkan hati harus saya naiki.Sempat adu argument lantaran kapasitas bagasi hanya 10 kg. Sedangkan bagasi saya 14 kg. tak mungkin satu saya tinggalkan karena perjalanan saya masih jauh dan lama. Setelah panjang lebar berargumen akhirnya 2 tas modal kerja dan pakain bisa saya angkut. Selamat tinggal Luwuk, jika sekali berkunjung pasti akan ada kunjungan kedua. Nantikan kedatangan saya. Icha Feb 2008

Friday, February 20, 2009

Bagian 2. LUWUK: Nama saya Elisaaaaaaaaaaaa dari Jakartaaaaaaaaaaa...!!!!








Terkejut, marah dan kesal bercampur dengan lelah membuat mual dan pusing. Masih lebih dari 18 jam lagi saya akan terkurung di bus jelek ini. Tapi saya coba menikmati saja. Panasnya Sulawesi cukup memanggang, hingga lelehan keringat membuat aku saya basah. Dari balik jendela saya bisa melihat desa-desa angus, sisa kerusuhan yang lalu.

Luwuk adalah ibukota Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah yang
Luwuk terletak di ujung peninsula dari provinsi Sulawesi Tengah merupakan ibukota dari kabupaten Kepulauan Banggai. berjarak ± 607 km dari Kota Palu yg merupakan Ibukota Provinsi Sulawesi Tengah. Kota Luwuk mempunyai moto "Luwuk Berair" kota yang "Bersih - Aman - Indah dan Rapi".

Kota yang diapit oleh pantai dan perbukitan ini sangat indah dengan pantainya yang jernih dan tak berombak karena di kelilingi oleh kepulauan Banggai. Kota dengan populasi yang tidak terlalu padat ini dihuni berbagai suku yang datang dari berbagai daerah seperti Bugis, Padang dan warga keturunan Tionghoa yang banyak berprofesi sebagai pedagang. Penduduk asli daerah sekitar adalah suku Ta. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia dengan dialek Bugis campur.
Sedikit dataran rendah yang terdapat di bibir pantai menjadi sentra kota, pemerintahan dan pemukiman penduduk. Sedangkan tak jauh di belakang kota adalah dataran tinggi / pegunungan yang hijau dan subur. Kondisi geografis ini membuat kota Luwuk tampak unik, memanjang menyusuri pantai. Pemandangan Kota Luwuk sangat indah baik di siang maupun malam.

KTP para penumpang dikumpulkan kondektur dan tiap melwati perbatasan kota, kondektur melapor pada pos-pos militer. Akhirnya saya tiba juga di perbatasan Poso. Setelah mengucapkan terima kasih dengan sang Brimob saya turun seorang diri. Saya turun di dekat Pos DLLAJR (Divisi Lalu Lintas Angkutan dan Jalan Raya). Saya langsung bertanya kendaraan yang menuju Luwuk pada petugas DLLAJR yang ada. Dari mereka saya mendapat informasi masih akan ada satu bus lagi yang menuju Luwuk.
Tiba-tiba saya tersadar kalau KTP saya masih di pegang kondektur. Tanpa sadar saya berteriak dan langsung menangis. (Cengeng banget yah?) Petugas DLLAJR bertanya ada apa. Cepat dan agak emosi saya menjelaskan kalau KTP saya masih terbawa Bus yang tadi saya tumpangi. Petugas DLLAJR dengan sigap naik motor mengejar Bus, saya berteriak kuat. Nama saya Elisaaaaaaaaaa dari Jakartaaaaaaaaa.

Hampir 20 menit petugas DLLAJR kembali dengan KTP saya. Wow… saya senang luar biasa. Menjelang senja, sebuah bus kali ini bus besar dan bagus mendekat. Petugas DLLAJR menghentikan dan berbicara dengan kondektur termasuk menawarkan harga untuk tiket saya.

Lega bercampur senang. Saya bisa kembali menikmati permandangan. Lokasi kota Luwuk yang menghadap laut, dengan pusat kota tepat di tengah teluk kecil berbentuk bulan sabit serta berlatar pegunungan memadukan keindangan yang eksotik. Di malam hari, kerlap-kerlip lampu-lampu dari bangunan pemukiman yang ada di lereng pegunungan menampilkan pemandangan yang indah dilihat dari pantai.

Sebaliknya bila kita lihat dari pemukiman yang berada di lereng pegunungan maka akan mendapatkan pemandangan pantai dan laut yang tak kalah indahnya, terlebih di saat matahari terbit. Saya merasa lelah tapi lega tinggal sedikit lagi saya akan tiba di Luwuk. (Bersambung)

Labels:

Bagian 1. Sepanjang jalan Sorowako-Poso-Luwuk



Sepanjang Jalan Sorowako-Poso-Luwuk

Dalam perjalanan dinas keliling Pulau Sulawesi, Luwuk adalah salah kota target yang harus saya datangi. Padatnya jadwal pekerjaan saya, membuat saya tidak bisa berlama-lama menetap di satu kota. Sekalipun kedua orang tua saya berasal dari Sulawesi tepatnya Sulawesi Utara, namun keseluruhan Sulawesi tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi saya.

Kenyataannya walau sama-sama berada di Pulau Sulawesi, lebih banyak perbedaan daripada persamaannya. Terlepas perbedaan atau persamaan yang saya temui, tiap kota mempunyai cirri-ciri yang unik dan meninggalkan kesan yang berbeda-beda buat .

Sebetulnya perjalana saya di mulai dari Sulawesi Selatan tepatnya Makassar, lalu Bulukumba, Bone, Sengkang, Pare-pare, Palopo, Toraja, Mamuju dan Sorowako. Namun tidak saya jalani dalam satu kali perjalanan karena ada beberapa daerah yang berjarak jauh dan sulit ditempuh dengan jalan darat seperti Mamuju dan Sorowako, maka dibagi beberapa tahap. Nanti saya cerita di lain kisah.


Kali ini saya berbicara Luwuk, bukan kota pertama yang singgahi dalam perjalanan dinas keliling Sulawesi, entah mengapa kok saya menulisnya memulai dengan Luwuk.Luwuk dapat ditempuh dengan melalui jalan darat dari ibukota provinsi Sulawesi Tengah Palu melalui jalur Poso, Tentena, Morowali, Pagimana dan Luwuk. Tapi saya melakukan perjalanannya dari Sorowako ke perpabatasan Sorowako –Palopo. Sepanjang perjalanan anda akan melalui tempat tempat yang indah yang belum banyak dikenal seperti lokasi penyelaman di Pulau Tikus dan Tanjung api.

Kalau saya tuliskan indahnya apa yang saya lihat, berbanding terbalik dengan ketidaknyamanan perjalanan. Sebetulnya dalam perencanaan perjalanan saya, Dari Sorowako saya akan kembali ke Makassar baru dari Makssar saya akan menggunakan pesawat menuju Luwuk.

Makassar adalah pusat penerbangan di Sulawesi. Sehingga jika dari kota-kota kecil kita harus kembali ke Makassar baru melanjutkan penerbangan ke kota selanjutnya. Namun entah mengapa, Penerbangan merpati yang ticketnya sudah saya genggam, mengabarkan mempercepat jadual penerbangan ke Luwuk.

Dari Sorowako, seharusnya saya tiba di Makassar pukul 07.30 dan penerbangan ke Luwuk dari Makassar adalah pukul 8.30. Sehingga perhitungan saya tidak meleset. Namun apa mau di kata Merpati memajukan penerbangan ke pukul 07.00 dimana saya baru mau meningalkan Sorowako.

Secepatnya saya harus merevisi jadwal perjalanan. Seharusnya besok pagi saya terbang ke Makassar, tapi karena ada perubahan, maka saya harus melakukan perjalanan darat. Dengan menumpang travel, saya diantar sampai keperbatasan, Sorowako-Palopo. Tanpa teman, tanpa petunjuk saya harus mencari jalan sendiri. Senja mulai turun dan segera berganti malam. Permandangan yang sangat indah namun tak bisa saya nikmati karena saya masih harus memikirkan bagaimana dan dengan apa lewat mana untuk tiba di Luwuk.

Di sebuah persimpangan saya turun dan ditunjukkan untuk menunggu di sebuah rumah makan kecil. Bermodalkan nekad dan secuil keberanian yang dipaksakan saya bertanya pada warga sekitar. Dari warga sekitar saya mendapat informasi akan ada kendaraan dari Makassar menuju Gorontalo yang bisa saya tumpangi dan nanti berganti kendaraan di perbatasan Poso.

Sebersit rasa cemas menghantui begitu mendengar kata Poso. Jujur saya agak paranoid kalau mendengar keributan antar warga karena perbedaan agama. Berpasrah dan menaikkan sebait doa mohon keberanian dan perlindungan dari yang kuasa, saya berkeyakinan niat baik saya dalam perjalanan dinas ini akan baik pada akhirnya.

Waktu terus berjalan, rasa lapar tak terasa karena cemas. Saya memberanikan diri berbicara dengan seorang laki-laki yang ditemani dua anak kecil dan seorang wanita paruh baya. Syukur saya serukan kepada Tuhan. Karena laki-laki ini, yang tetap tidak saya ketahui namanya diakhir perjalanan saya, menemani dan menjaga saya. Ia seorang polisi dari Brimob yang bertugas di Polda Gorontalo. Wanita paruh baya itu ibu dan dua anak kecil adalah adiknya yang hanya mengantar.

Saya menceritakan kalau saya menikah dengan orang Gorontalo (Thanks Frisch, Gorontalo menyelamatkan saya) Laki-laki ini bersedia menemani saya karena kebetulan tujuannya adalah Gorontalo.Dari pukul 7,8,9, 10. Rasa cemas ini sudah menimbulkan sakit perut yang melilit, biar bagaimanapun gelapnya malam ditempat yang tak saya kenal, tetap sesuatu yang tidak enak bagi saya.

Polisi Brimob ini duduk tak jauh dari saya. Beberapa laki-laki yang terlihat seperti calo beberapa kali mengajak saya berbicara dan menawarkan penginapan tapi dengan halus saya tolak. Saya mencoba berkonsentrasi dengan buku yang saya bawa. Mendekati pukul 11 malam, sebuah bus yang sangat menyedihkan dengan nama :”Bitung Indah” mendekat.

Bukan bus besar tapi bus sedang sebesar Metro Mini Jakarta. Sang Brimob mengajak saya dan mengiring saya ke bus. Saya bingung dan terkejut karena walau dengan cahaya yang terbatas saya bisa melihat tak ada tempat di dalam bus. Bukan karena penuh penupang tapi karena penuh karung.

Kondektur mengatakan, naik saja! Di atas ada tempat duduk. Di pintu saja sudah penuh karung dan saya harus merayap melalui karung untuk sampai di dalam yang juga dipenuhi karung. Tepat dibelakang supir ada satu tempat duduk kosong. Tapi itu berarti saya duduk bersebelahan langsung dengan pintu bus yang tak berpintu. Sang Brimob juga merayap tapi dalam hati saya katakana Polisi kan biasa merayap kalau latihan.

Sedangkan saya kali ini bertugas sebagai seorang Auditor yang bertugas melakukan Service Quality Audit untuk sebuah perusahaan provider komunikasi. Tapi tetap saya syukuri Karena masih ada kendaraan. Menurut penjelasan kondektur saya akan tiba sekitar pukul 15.00 sore di perbatasan Poso.

Tapi buruknya kondisi Bus membuat perjalanan menjadi dua kali lipat lamanya. Tengah malam, roda bus pecah tepat di tengah hutan yang saya tidak tahu persisnya. Dinginnya angina malam menusuk tapi lebih menakutkan kalau ada binatang hutan yang mencoba masuk ke bus. Badan ini lelah luar biasa tapi mata dan kesadaran diri terus waspada. Tak ada yang bisa dilakukan selain menghentikan bus dan menunggu.

Fajar sudah lama berlalu ketika ada bus sejenis yang lewat dan meminjamkan peralatan sehingga ban bisa diganti. Kondisi jeleknya bus ditambah beratnya beban membuat bus ini serasa berjalan ditempat. Ketika berhenti di sebuah tempat makkan dan saya bertanya berapa lama lagi tiba di perbatasan Poso. Supir dengan tersenyum kecut memberitahukan mungkin kalau lancar baru tiba besok sore. (Bersambung)















Labels:

Thursday, February 05, 2009

Hujan....oh hujan

Berita tadi pagi di tv, menginformasikan pengungsi di Kampung Melayu/Jatinegara sampai pagi ini bukan berkurang tapi malah bertambah. Pengungsi ini ditampung di bekas bioskop Nusantara.Selain itu informasi dari BMG pun meramalkan hujan hampir di seluruh wilayah Indonesia. Jadi jangan lupa payung bagi yang beraktivitas hari ini.

Secara umum, manusia tidak pernah puas. (Salah satunya ya saya!). Saat panas matahari bersinar terik, kerap saya mengeluh merasa seperti terbakar. Pendingin ruangan menjadi kemarahan saya kalau tidak mampu memberikan kesejukan. Jangankan buat orang-orang yang sudah lama di luar negeri (Terutama negara yang punya musim dingin), buat saya dan anak-anak, panasnya Jakarta sudah terasa sangat tidak enak. Apalagi kedua anak saya, punya problem dengan kulit. Jadi kalau kepanasan dan berkeringat, kulit mereka jadi gatal-gatal. Dokter sudah memberi bedak/talk tapi aku atau pasanganku akan kena dampaknya mengusap/menggaruk yang gatal.

Mungkin ini salah satu dampak dari pemanasan global. Secara keseluruhan di Indonesia memang sudah terjadi penurunan jumlah hutan lindung/penahan air hujan. Ini berakibat bukan cuma di kota-kota yang punya hutan tapi juga sampai Jakarta. Padahal dulu, hutan Indonesia termasuk yang terbesar di dunia. Katanya paru-paru dunia. Tapi sekarang paru-paru itu sudah penuh asap (TBC kalee).

Sebaliknya kalau hujan, karena tidak ada lagi yang menahan/menyerap membuat air senang menggenangi halaman dan rumah.Akibatnya ya banjir. Curah hujan walau sudah masuk Februari belum besar benar tapi hujan itu biar cuma kecil alias gerimis, tetap menyusahkan.

Mau beraktivitas ke luar rumah jadi susah dan malas. Bawaanya saya jadi banyak, berat dan merepotkan. Kalau hujan, saya terpaksa bawa baju ganti, sepatu di bungkus plastik masuk ke dalam tas. Dari rumah pakai sendal.Tas yang sudah berat karena komputer jinjing, jadi makin berat. Sementara tangan yang lain memegang payung.

Akibat hujan, para pengendara motor kadang tidak punya toleran. Selip sana-selip sini. Angkot berhenti semaunya. Jalanan jadi kacau dan macet. Tiap hujan, jarak tempuh ketempat kerja jadi gak bisa diprediksi. Akhirnya saya jadi deg-degan, terlambat atau tidak?

Bas dan Van yang harus bangun lebih pagi karena masuk sekolah jadi pukul 06.30, jadi makin susah dibangunkan manakala hari hujan. Bangun pukul 4.30 dalam keadaan cuaca dingin, memang menyebalkan. Kalau boleh memilih, sayapun ingin masuk kembali dalam selimut.Tapi masing-masing punya kewajiban dan tanggung jawab, jadi harus di lawan rasa malas atau rasa enggan itu. Semangat.....semangat...! Biarpun lagi tidak semangat!
(Jumat, 6 Feb 2009. Di sela-sela buat quesioner indepth interview)
Icha

Friday, January 30, 2009

JANGAN MELIHAT DENGAN MATA

JANGAN MELIHAT DENGAN MATA

Dua malaikat yang sedang melakukan perjalanan ke luar kota, singgah pada rumah seorang yang kaya raya. Keluarga tersebut kasar dan tidak mengijinkan kedua malaikat tersebut tidur di dalam rumah besar mereka. Sebagai gantinya, mereka menyuruh kedua malaikat tersebut tinggal di gudang bawah tanah mereka yang dingin, kotor, tanpa pemanas. Ketika sedang menyiapkan tempat tidur mereka, malaikat yang lebih tua melihat sebuah lubang di dinding, dan lalu memperbaikinya.

Ketika malaikat yang lebih muda bertanya, malaikat yang tua itu menjawab: "Tidak semua hal itu sebagaimana tampaknya."

Malam berikutnya, kedua malaikat tersebut menginap di sebuah keluarga petani yang miskin, tetapi sangat ramah. Setelah berbagi makanan yang serba sedikit, pasangan petani tersebut mempersilahkan kedua malaikat tersebut tidur di tempat tidur mereka, sedangkan mereka sendiri tidur di lantai.

Ketika matahari muncul di ufuk timur keesokan paginya, mereka menemukan pasangan petani tersebut sedang menangis sedih. Ternyata, sapi yang merupakan satu-satunya sumber penghidupan mereka, yang memberikan susu setiap pagi, tergeletak mati di pinggir ladang mereka.

Malaikat muda menjadi marah dan mencaci maki malaikat tua, katanya: "Mengapa engkau tega melakukan semua ini kepada mereka? Mengapa engkau membiarkan semua ini terjadi? Kemarin kita mendapat kesempatan untuk menginap di rumah seorang kaya raya. Kita dibiarkan tidur di gudang yang kotor dan dingin, tetapi kamu masih membantu mereka dengan memperbaiki dindingnya yang bolong. Malam ini kita menginap di rumah seorang petani miskin yang begitu ramah dan mau berbagi, tetapi apa yang kamu lakukan? Kamu biarkan sapi yang merupakan satu-satunya sumber hidup, mati. Maumu apa, sih? "

Malaikat tua menjawab singkat: "Tidak semua hal itu sebagaimana tampaknya."

Ketika malaikat muda mendesak untuk menjelaskan, malaikat tua berkata: "Waktu kita menginap di tempat orang kaya kemarin, Aku melihat sebuah lubang di dinding. Di dalamnya ada kepingan emas. Tetapi karena orang kaya tersebut sangat tamak, tidak mau berbagi, dan tidak bisa ramah kepada orang lain, maka dinding tersebut kututup. Biar mereka tidak tahu dan tidak dapat mengambil emas tersebut.

Lalu malam ini, ketika kita tidur di ranjang Pak Tani, dan mereka mengalah tidur di lantai, malaikat maut datang hendak mengambil istri petani itu. Tetapi Aku belokkan dan sebagai gantinya, malaikat maut itu mengambil sapi Pak Tani."

Tidak semua hal itu seperti bagaimana tampaknya. Terkadang kejadian di sekitar kita juga begitu.

Jika kamu memiliki iman, kamu harus percaya bahwa semua hal merupakan keberuntunganmu, meskipun mungkin kita tidak menyadarinya.

Orang yang datang dan pergi begitu saja dalam kehidupan kita, ada yang menjadi teman, dan ada pula yang tinggal hanya sekejap, tetapi meninggalkan kenangan manis dalam kehidupan dan hati kita. Dan kita tidak pernah menjadi sama, karena kita telah berteman dengan banyak orang...!!! (Icha dari berbagai sumber).

Labels: